Jumat, 24 Desember 2010
Susi dan Tanty
apa yg s suka &tdk suka dari t?
(terkirim)
balasan diterima
begini jawaban s:
s suka t setia.. setia jadi teman s meski cm smsan
suka dengan keterbukaan t meski mungkin jg byk privasinya..
s juga suka t orangnya cuek..
maksudnya bisa jd diri sendiri palagi kl pas maju kdpn wkt kul dulu
lha s? trs yg gak suka apa?
**susi itu sahabat waktu dulu dipendidikan kanak-kanak
kebersamaan dengan s cuma setahun (04 - 05)
berarti udah hampir 6 tahun, kita gak ketemu
kangen rasanya...
tapi mu gimana,
s jauh banget!!!!
barabai--kalimantan selatan
Ani dan Tanty
(sms dikirim)
(jawaban diterima)
suka dari t:
lucu
cuek
supel
bs jd tmn curhat
aneh kadang2
gak suka dari t:
suka ngegampangin tugas terutama kuliah
bikin repot bagi ani,
t sahabat yg datang pada saat yg tepat.. jd,, baik atw buruknya t, gak pernah ani pikirin..
Responku
(ketawa) huaahahahaha..
jawaban yg super ani
jawaban dterima:))
ani adalah sahabat yg suka nyama-nyamain aku sama sule
katanya aku kaya sule
ihh.. dasar ani, masa t disama-samain kaya sule
tapi kata ani, "lucu nya t!!!"
wekwkekeekk..
masa iya kelucuanku disetarakan sama komedian no 1 di OVJ!!!!
oh my god!!!
terharu sekali
kaya baru dapet award, trz t jalan di karpet merah
trz, seluruh penonton tepuk tangan buat t
hahahahaha..
ngarang bin ngayal
pokoknya, ani juga sahabat
diluar semua yg t suka dan tidak suka dari ani
ani adalah sahabat
baik
baik
dan baik
thanks buat semuanya ya ni,
padahal tau gak seh, kita kan harusnya udah kenal sejak tahun 2004
tapi baru dekat pas di PLB
takdir Allah baru mendekatkan hati kita saat ini
waktu di pendidikan taman kanak-kanak
kita punya teman masing2 dan aku cuma kenal wajah ani tp gak tau nama ani
hehehe
beda kelas dan beda gelombang
ok cinta
matur nuhun buat semua kebersamaan kita
semoga kita bahagia selalu
**hidup itu anugerah
maka berbahagialah:))
Rabu, 22 Desember 2010
02.20
padahal kepala udah pusing pengen tidur
tapi mata gak bisa merem
gak bisa tidur,
pasti besok kepala pusing (biasanya gitu)
klw kurang tidur, yang terjadi adalah
kepala pusing
gak fresh
penet, empet, trs mampet deh... hehehe
klw otak udah mampet mana mungkin bisa kerja
lha otaknya aja mampet
otak itu kan kaya mesin yah,,??
iya gak seh?
bukannya mesinnya itu hati?
bukan!! klw hati itu adalah bensinnya
hehehehe... ngarang!!!!
gini- gini...
aku mu ceramah...
seperti hal nya tubuh kita yang perlu nutrisi
hati kita juga butuh..
biar sehat dan kebal dari penyakit2 yg membahayakan..
jadinya, rawatlah baik2 hati anda. ;)
**agar apapun yg terjadi, hati bisa menghadapinya:))
sehingga, semua bisa kembali baik:))
*iseng pas lagi susah tidur
Selasa, 21 Desember 2010
Semua Ada Akhirnya
semua yang kita jalani juga pasti ada akhirnya
tugas yang menumpuk pasti ada habisnya
penat dengan dunia pasti ada ujungnya
susah pasti ada senangnya
bahagia pasti ada sedihnya
sendiri pasti ada ramenya
kena tegur pasti ada salahnya
kuliah gak kelar2 pasti ada kelarnya
hehehehe
(lagi nyemangatin diri sendiri)
semua ada ujungnya teman
jangan sedih
jangan penat
jangat stress
jangan depresi
tenang aja
santai
jangan jadi orang perfect
karena bakal capek sendiri
jalani dengan ringan
sesuai dengan kemampuan
bukan gak serius tapi sesuai dengan kemampuan
dan kita sendirilah yang lebih mengenal diri kita dibanding orang lain
sampai dimanakah kemampuan kita
jangan mendzolimi diri dengan memasang target dunia terlalu tinggi
Capaian sukses setiap orang berbeda
beranilah jadi orang yang beda
gak mesti sama
gak mesti seragam
gak mesti ikut2an
hhhhuuuiiiiffuhhh...
nikmati tugas2 yang menumpuk ini
sebelum semuanya berakhir
dan kita akan merindukan saat ini:))
kelak kita akan merindukan saat2 ini:))
maka nikmatilah hari ini
sesungguhnya waktu yang telah lewat tidak mungkin terulang kembali:))
ting..^_*
semangat DE!!!!!!!!!!
innallaha ma'ashobirin..
sesungguhnya Allah bersama orang2 yang bersabar..
Kamis, 16 Desember 2010
Dunia Maya Memesonakannya
Oleh Anung Umar
Ia seorang ikhwan yang iltizam terhadap din. Penghafal Al-Quran yang juga sangat bersemangat dalam mempelajari sunnah Nabi, mempraktekkannya dan mendakwahkannya dalam kehidupan sehari-hari. Bolehlah sebut dia sebagai aktivis dakwah. Dengan cahaya ilmu dan amal yang menghiasi dirinya, maka tak bisa ditampik lagi, berbagai pujian pun mengalir untuknya. Keluarga, teman-teman dan orang yang mengenalnya memujinya. “Saleh” , “zuhud” , “alim” dan berbagai atribut sanjungan lainnya mereka sematkan untuknya.
Demikianlah keadaannya. Sampai ketika ia telah mengenal internet, di sinilah perubahan itu bermula. Ia yang walaupun latar belakangnya dari sekolah umum, namun sejak mengenal dakwah dan tarbiyah sudah mulai menjaga jarak dari lawan jenis, bahkan terputuslah komunikasi antaranya dengan lawan jenis, kecuali bila darurat atau ada hajat yang perlu ditunaikan. Tatkala ia membuka dan menjelajahi dunia maya, terkesiaplah ia. Ia melihat dunia baru yang belum pernah dikenalnya sebelumnya.
Ia terpana menyaksikan interaksi antara (sebagian) ikhwan dan akhwat di “dunia baru” ini. Kalau hubungan antara (sebagian) ikhwan dan akhwat terasa “dingin” di dunia nyata, namun di dunia maya, justru “kehangatan”lah yang terasa. Sekat yang selama ini membatasi pergaulan Ikhwan-akhwat dalam dunia nyata, seolah-olah tak teraba di dunia maya. Para ikhwan yang selama ini “kaku”, “jaim (jaga image)” di depan akhwat, begitu juga sebaliknya, namun di dunia maya semua itu seakan tinggal cerita. Yang ia saksikan justru “keramahan”: saling menyapa, canda dan curhat mesra. ”Pesona” seperti inilah yang ia saksikan hampir setiap hari di dunia maya. Terlihat “indah” memang. Namun, baginya “pesona” itu hanyalah kamuflase atau fatamorgana yang menipu. Ia tak menghiraukannya. Ia tetap istiqamah dalam ilmu dan amalnya.
Akan tetapi, betapapun jernihnya kaca, bila selalu terkena debu maka akan kusam pula akhirnya. Meskipun ia mengingkari “pesona” yang ada di depan matanya, namun ketika “pesona” itu berulang-ulang disaksikannya sehari-hari, tanpa disadari “pesona” itu meronai benaknya dan bergelayut di hatinya. Jadilah “pesona” itu seakan magnet yang menariknya untuk menghampiri dan menyambutnya. Maka tatkala luapan “pesona” itu telah tertambat kuat di hatinya dan membuncah di dadanya, tak sanggup lagilah ia untuk menjauhinya . Ia pun menghampiri blog-blog para akhwat demi “maslahat dakwah”. Ia buka chatting dengan lawan jenis untuk suatu tujuan yang namanya “hidayah”.
Tak dinyana, ada “kehangatan” tersendiri baginya ketika itu. Maka ia pun makin bersemangat memberikan faidah atau nasehat kepada lawan jenisnya melalui komentar di blog maupun chatting. Demikianlah seterusnya, nasihat demi nasihat selalu mengalir darinya. Setelah berlalu beberapa waktu dilanjutkan dengan “nasihat akrab”: nasihat dengan sedikit canda agar menghilangkan “kekakuan”. Demikian seterusnya. Sampai akhirnya ia mengunjungi blog-blog para akhwat dan chatting dengan mereka hanya sekedar untuk bercanda, mengisi waktu luang dan mengobati kejenuhan.
Tanpa terasa adab-adab berbicara terhadap lawan jenis makin dilalaikan. Ilmu dan amal yang selama ini dikerjakan mulai ditinggalkan. Akhirnya pikirannya dipenuhi dengan “pesona dakwah“ yang dijalankannya. Di hatinya tersemai rindu untuk bertemu dengan “mad’u”nya. Bila satu hari saja tidak memberi “nasehat”, kegalauan mengurung hatinya dan menyesakkan dadanya.
Tak terasa hafalan Al-Qurannya pun terganggu. Kekhusyukannya dalam membaca dan merenungi kitabullah pun mulai luntur. Hari demi hari berlalu terasa makin sulit baginya untuk mentadaburi ayat-ayat Al-Quran yang dibaca atau didengarnya. Ia tidak bisa lagi mencecap manisnya menyelami Al-Quran seperti sebelumnya.
Apa yang salah denganmu, ya akhi? Kenapa hatimu menjadi keras? Mana air mata yang dulu meleleh di wajahmu tatkala ayat-ayat Allah dilantunkan? Mana semangat beramalmu yang dulu membara tatkala hadits Nabi disebutkan? Apa penyebab semua ini, wahai saudaraku?
Internet! Itulah jawaban dari semua pertanyaan tadi. Kamu telah menjadi korban internet. Internet, chatting, facebook dan yang semisalnya telah menjauhkanmu dari cahaya hidayah!
Internet memang merupakan salah satu kenikmatan yang diberikan Allah kepada kita semua di zaman ini. Namun siapa yang menyangka jika kenikmatan ini bisa berubah menjadi kebinasaan tatkala melampaui batas-batas hukum-Nya atau digunakan untuk selain yang diridhai-Nya.
Tak ada yang salah seorang ikhwan ingin mendakwahi atau memberikan faidah kepada akhwat, begitu juga seorang akhwat ingin mendakwahi atau memberikan faidah kepada ikhwan. Namun apa faidah yang ingin kamu sampaikan jika ada “sesuatu” pada hatimu tatkala menasehatinya? Apa faidah yang ingin kamu sampaikan jika pikiranmu membayangkan sosoknya? Apakah kata-kata mesramu itu bisa menunjukkannya pada hidayah? Apakah candamu itu bisa mendekatkannya kepada Allah?
Betul, di zaman salafus saleh memang ada surat-menyurat antara pria dan wanita. Melalui surat, mereka saling menegur, menasehati, memenuhi kebutuhan yang perlu diselesaikan. Akan tetapi, sudahkah kamu menyamai mereka dari sisi ilmu dan ketakwaan? Apakah kamu telah meneladani mereka dalam menjaga adab-adab berbicara terhadap lawan jenismu? Apakah derajat ketakwaanmu telah menyamai mereka sehingga hatimu tak merasakan “apa-apa” tatkala menasihati “mad’u”mu?
Kalau jawabanmu belum, maka tutuplah “keindahan” dan “kerinduan” yang telah kamu rasakan ini. Gantilah itu dengan keindahan tangismu tatkala membaca ayat-ayat Rabbmu. Gantilah itu dengan kebahagiaan hatimu tatkala mempraktekkan sunnah Nabimu. Gantilah itu dengan kerinduanmu untuk bertemu dengan-Nya di akhirat kelak.
Kalau kamu merasa kebiasaan barumu itu sebagai sesuatu yang lumrah dan lazim, apalagi sampai menganggapnya sebagai sesuatu yang perlu diperjuangkan dan tidak semestinya dikekang, maka marilah kamu kami mandikan, kami kafankan, kami shalatkan, lalu kami kuburkan. Karena hatimu sudah beku, sekarat atau mati, meski masih bergerak jasadmu, masih menatap matamu,dan masih berbicara lisanmu. innaa lillahi wainnaa ilaihi raji'un…
Jakarta, 4 Muharram 1432/ 10 Desember 2010
anungumar.wordpress.com
http://anungumar.wordpress.com/2010/12/10/dunia-maya-memesonakannya/#comments
**Aku setuju dan sepaham dengan isi tulisan ini.
Medincine of Futur
oleh: Setta SS
SHALAT lima waktu nggak nikmat. Baca Al-Qur’an ogah-ogahan. Shalat sunah terasa hambar. Puasa sunah, please nggak dulu deh! Membaca buku pelajaran, modul kuliah atau paper riset, malas banget. Apalagi mengerjakan tugas dan menyelesaikan proyek pekerjaan, bawaannya ngantuk mulu. Bahkan menulis diary sekalipun, bagi yang terbiasa menulis, beraaat men!
Kadang sempat terpikir juga: nggak usah berangkat ke sekolah, kampus, atau ke tempat kerja saja sekalian. Atau yang lagi banyak waktu luang, sudah dua tahun pakai toga tapi masih setia menjadi ‘pengacara’ … opst! ke kamar mandi juga malas. Kerjanya tidur, bangun, tidur, bangun, tidur, bangun, tidur. Lho, apa tuh maksudnya?
Artinya selesai shalat Isya langsung tidur, jam tiga dini hari bangun, matikan alarm jam/hp, tidur lagi, dengar azan Shubuh bangun lagi—beberapa detik, kemudian tidur lagi. Dan bangun lagi jam setengah enam lewat, shalat Shubuh pakai perangko kilat, setelah itu … tidur lagi (inginnya sih)! So, pas seorang eksekutif yang sedang melakukan perjalanan bisnisnya sudah menginjakkan kakinya di negeri Cina, ia masih setia melukis sebuah pulau impian di atas spring bed lusuhnya.
By the way tahu nggak sih, doi terkena penyakit apa? Virus merah jambu? Nggak juga tuh, wong dia sudah nikah kok! Katanya sih dia kena virus merah hati. Gini lho maksudnya.
Kondisi keimanan seorang muslim bisa diumpamakan bak gelombang air di lautan. Dalam satu hari, karena pengaruh gaya gravitasi bulan dan matahari terhadap bumi, air laut naik (pasang naik) di sepanjang pantai dua kali. Demikian juga air laut akan turun atau pasang surut dua kali dalam sehari. Keimanan seorang bisa juga diibaratkan layaknya satu noktah kecil yang ada pada permukaan roda pedati yang sedang berputar di sepanjang jalan mulus yang dilaluinya. Dalam satu putaran penuh, sekali ia akan ada di titik puncak dan di saat lain akan terperosok di dasar roda. Kondisi saat keimanan seseorang di titik terendah inilah yang sedang menimpa teman kita di atas. Fenomena ini yang biasa disebut futur.
Secara etimologis, futur berarti diam setelah giat dan lemah setelah semangat. Dalam terminologi Islam, futur adalah terjadinya gejala kevakuman dalam beragama dengan ditandai hilangnya semangat beribadah. Efek terburuk yang ditimbulkannya berupa inqitha (terputusnya aktivitas) setelah istimrar (kontinu). Sedangkan efek minimalnya adalah timbulnya sikap acuh, berkembangnya rasa malas, berlambat-lambat dan santai, dimana sikap tersebut datang setelah sikap giat bergerak.
Fenomena futur sebenarnya adalah masalah yang pasti hadir tanpa ada seorang pun yang dapat mengelak darinya. Mengenai hal ini, tersirat dalam sinyalemen Rasulullah Saw. dalam sebuah sabdanya, “Setiap amal itu ada masa semangat dan melemahnya.” (HR. Ahmad)
Jadi, kayaknya kita tidak usah merasa sebel bin bĂȘte kalau ada kawan karib kita yang bawaannya mutung mulu dan selalu bermuka asem saat ketemu. Meski kita sudah menyedekahkan senyum termanis bin narsis kita untuknya.
Sebab di lain waktu, sangat boleh jadi kitalah yang akan berada pada posisinya itu. Menjadi orang yang super menyebalkan sedunia!
***
APA saja penyebab futur?
Secara umum, ada banyak hal yang bisa menyebabkan kondisi keimanan seseorang menjadi down. Tenggelam dan hanyut dalam kemaksiatan, aktivitas kerja yang monoton dan kurang menantang, paper kuliah atau tugas sekolah yang menumpuk minta untuk segera diselesaikan, tuntutan pemenuhan biaya hidup yang semakin melambung dari hari ke hari, hubungan antarpersonal yang mengeruh, lingkungan keseharian yang tidak produktif dan santai, juga termasuk banyaknya waktu luang yang tak terisi dengan kegiatan positif. Adalah beberapa faktor dominan yang bisa menyebabkan futur.
Coba kita cermati saat-saat kita merasa jenuh dengan hari-hari yang kita lalui. Adakah salah satu dari item di atas yang menjadi biang keladinya?
Bagaimana solusinya?
Sesungguhnya ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mengobati ‘penyakit’ yang satu ini. Tergantung kondisi masing-masing pribadi yang diserangnya.
Tips berikut ini beberapa di antaranya yang bisa kita coba praktekkan untuk mengobatinya.
Pertama, menjauhi kemaksiatan dan menjaga ketaatan.
Kemaksiatan akan menyebabkan hati menjadi kusam dan sangat kotor. Kemaksiatan menyebabkan seseorang semakin jauh dari hidayah dan apatis dalam hidupnya. Sebaliknya, menjaga ketaatan kepada Allah akan melahirkan energi tak terhingga untuk mengarungi hidup dengan penuh kesungguhan dan orientasi yang jelas. Baik untuk kehidupan dunia maupun bekal kembali ke kampung akhirat kelak.
Kedua, bahagiakan orang lain.
Melihat rona muka ceria dan tawa riang gembira orang lain karena kebaikan yang kita lakukan padanya adalah hal yang membahagiakan kita. Dan hal itu dapat kita raih hanya dengan melakukan hal-hal kecil untuk mereka.
Suatu sore, saya pernah mentraktir sepuluh orang lebih adik-adik TPA dengan membelikan mereka makanan kecil. Kami memakannya beramai-ramai sambil tertawa ceria. Hal itu sangat membahagiakan saya. Dan beban pikiran saya terangkat seketika.
Di lain waktu, saya membelikan pulsa dua puluh ribu untuk adik saya. Beberapa menit kemudian, adik saya sms, “Terima kasih, kakakku yang baik.” Padahal sebelumnya dia tidak pernah mengucapkannya. Seketika itu, saya tersenyum bahagia membayangkan wajah adik saya tersenyum manis kepada saya. Cobalah.
Ketiga, refreshing; yaitu mengalihkan sejenak pikiran kita dari aktivitas keseharian yang monoton.
Refreshing tidak berarti harus mengunjungi tempat-tempat wisata yang jauh dan indah. Tetapi bisa juga sekadar pergi ke sawah di belakang rumah; mencabuti rumput-rumput liar atau mencicipi makanan di dangau sambil menikmati sepoi angin dan mendengarkan cericit burung yang riang beterbangan di angkasa.
Memberi makan ikan-ikan di kolam, membaca kumpulan tulisan dengan tema-tema ringan tapi penuh ibrah di dalamnya, mencoba resep masakan baru bagi yang hobi memasak, mendengarkan nasyid yang membangkitkan semangat untuk berkarya, menonton film yang bisa memberi masukan positif—seperti film-film karya Harun Yahya, bermain bola/futsal, jogging, atau menata ulang komposisi kamar tidur, meja belajar dan ruang kerja kita.
Refreshing bisa juga berarti silaturahim ke rumah saudara sambil bersepeda ria. Atau bahkan sekadar mengirim sms dan menelfon keluarga dan sahabat yang jarang bertemu sambil bertukar kabar dan info terkini. Dan masih banyak lagi aktivitas ringan yang bisa menjadi sarana untuk memulihkan kondisi down yang kita alami.
Keempat, buat resolusi singkat untuk diri sendiri.
Resolusi bisa dengan kata-kata positif, namun bisa juga dengan kata-kata negatif yang bermuatan positif. Buat dengan huruf tebal, komposisi menarik, dan jelas terbaca. Kemudian pasang di cermin atau di meja belajar.
Misal, “Be SPIRIT, please! There are still a lot of CHANCES for you!” atau “Futur? Jontor, lu!” dan lain sebagainya.
Setiap kali membacanya insya Allah akan memberikan masukan positif bagi pikiran kita dan mengingatkan tentang berbagai akibat yang tidak menyenangkan jika kita terus berkompromi dengannya. Ingat bahwa penyesalan selalu datang di kemudian hari saat semuanya sudah terlanjur terjadi dan tak mungkin diulang kembali.
Buatlah resolusi yang berbeda setiap kali kita merasa resolusi pertama yang kita buat kurang optimal dan tidak membuahkan perubahan berarti pada keseharian kita.
Kelima, memperbarui program aktivitas pribadi.
Meninjau ulang jadwal aktivitas harian secara objektif dan menentukan susunan prioritas kegiatan yang akan dilakukan. Dengan memetakan kembali secara rinci tujuan-tujuan yang ingin kita capai dan membuat langkah-langkah pencapaiannya, akan memberi ruang lebih pada otak kita untuk berpikir lebih jernih dan sekaligus dapat meminimalkan resiko stress yang menyebabkan futur.
Keenam, buka mata buka telinga.
Cermatilah lingkungan sekitar kita. Ada pohon mangga yang berbuah lebat dan ranum. Tak jauh darinya, pohon rambutan sedang berbunga dan tak lama lagi akan memberikan buahnya yang manis dan banyak mengandung vitamin C. Di dalam sebuah pot mungil, melati putih menebarkan bau harumnya yang semerbak.
Lalu bertanyalah, “Apa yang telah aku sumbangkan untuk lingkungan sekitar? Apakah aku sudah lebih baik—bahkan sekadar dari pohon mangga, pohon rambutan, dan sekuntum mawar?”
Karena bukan hal yang mustahil jika kehadiran mereka jauh lebih berharga daripada keberadaan kita yang tidak melakukan apa-apa. Bukankah yang terbaik di antara kita adalah yang paling banyak manfaatnya bagi sesama? Dan predikat itu tidak mungkin kita raih jika kita hanya bermalas-malasan tanpa beraktivitas positif dan bernilai manfaat bagi orang-orang di sekitar kita. Karena hanya orang-orang yang memiliki nilai plus saja yang bisa bermanfaat bagi lingkungannya.
Ketujuh, ingatlah bahwa kelak kita akan dihisab sendiri-sendiri sesuai dengan apa yang kita perbuat dalam kehidupan ini.
Katakanlah, “Kamu tidak akan ditanya (bertanggung jawab) tentang dosa yang kami perbuat dan kami tidak akan ditanya (pula) tentang apa yang kamu perbuat.” (QS. Saba’ [34] : 25).
Kita tentu tidak ingin melihat teman-teman sepermainan kita tertawa di surga, sementara kita sendiri dijebloskan ke jurang neraka. Karena timbangan kebaikan kita lebih sedikit daripada kesia-siaan yang dikerjakan. Sebab mereka jauh lebih banyak melakukan ketaatan daripada kita yang larut dalam kemalasan berkepanjangan.
Ya, ingatlah selalu bahwa kelak kita tidak akan dihisab secara berjamaah. Melainkan sendiri-sendiri sesuai dengan apa yang sudah kita perbuat di dunia ini.
Kedelapan, berdoa.
Memperbanyak membaca doa mohon perlindungan dari sifat malas sebagaimana doa yang diajarkan Rasulullah Saw.
Allahumma innii a’uudzubika minal hammi wal-hazan, wa a’uudzubika minal ‘ajzi wal-kasal, wa a’uudzubika minal jubni wal-bukhl, wa a’uudzubika min gholabatid-dayni wa qohrir-rijaal.
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan ke-sedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil, dan dari tekanan hutang dan kesewenang-wenangan orang.
***
IBNUL Qoyyim Al-Jauziyah berkata, “Saat-saat futur bagi seseorang yang beramal adalah hal wajar yang harus terjadi. Selama ia tidak keluar dari amal-amal fardu dan tidak melakukan sesuatu yang diharamkan oleh Allah, diharapkan ketika pulih ia akan berada dalam kondisi yang lebih baik dari keadaan sebelumnya.”
Kita harus berusaha agar saat kondisi futur menyerang tetap berada di jalan yang diridhai-Nya. Sehingga ketika sudah terlepas darinya, kita menjadi pribadi yang setingkat lebih baik dari kondisi kita sebelumnya.
Allahu a’lam bish-shawaab! (*)
Karangkandri 2o Maret 2oo6 11:o8 p.m -- Yogyakarta 13 Desember 2o1o 11:55 p.m
tanggal download: Kamis, 16 Desember 2010
http://www.eramuslim.com/oase-iman/setta-ss-medicine-of-futur.htmAllah Yang Tahu Kapan Kita Siap
oleh: Fatimah Ali Salsabila
tanggal download: Kamis, 16 Desember 2010
Bismillahirrohmanirrohiim
Membicarakan pernikahan bagi kaum lajang memang terkadang menggelitik telinga, ada yang senyum senyum, malu malu, bahkan berlalu begitu saja (karena terlalu sering mendengar). Apalagi bagi muda mudi yang sudah masuk usia "matang" menikah...
Sudah sunnatulloh, Allah menciptakan yang namanya perasaan, termasuk perasaan untuk ingin disayang, dimanja dan diperhatikan.
Yup, perasaan cinta. Akan jauh lebih indah jika kita bisa mengaplikasikan rasa cinta yang sudah Allah anugerahkan kepada kita dapat disalurkan kepada orang yang tepat, yang memang sudah seharusnya kita cintai, seperti cinta kepada orang tua, cinta kepada anak, dan cinta kepada orang yang sudah halal untuk kita.
Jika melihat dari poin ketiga yaitu mencintai orang yang sudah halal untuk kita tentu tidak akan menjadi masalah besar bagi mereka yang telah diberikan kesempatan untuk menggenapkan setengah diennya, akan tetapi akan menjadi masalah jika rasa itu timbul sebelum waktunya.
Namun pernikahan begitu indah kudengar
Membuatku ingin segera melaksanakan
Namun bila kulihat aral melintang pukang
Hatiku selalu maju mundur dibuatnya
(Suara Persaudaraan)
Rasululloh SAW bersabda “Wahai sekalian para pemuda barang siapa diantara kalian telah mampu menikah, hendaklah menikah karena menikah lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kehormatan. Barang siapa yg belum mampu menikah hendaklah puasa karena puasa merupakan perisai baginya.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Rasulullah SAW menasehati kita, para lajang, untuk yang sudah mampu maka hendaklah menikah dan yang belum mampu ya berpuasa. Simple, tidak bertele-tele, tidak penuh birokrasi yang ngejelimet, tinggal kita kaumnya untuk bisa mengaplikasikan. Jika toh memang merasa belum mampu, sambil berpuasa untuk menahan nafsu, kita juga bisa menyiapkan perbekalan-perbekalan yang cukup dan memadai untuk mengarungi kapal rumah tangga nantinya.
Beberapa orang berkata bahwa mereka sudah merasa sangat siap untuk menikah. Sudah merasa matang untuk dapat mengikuti sunnah Rasulullah SAW yang sangat disukai ini, menikah. Tapi sebenarnya tingkat kematangan tiap orang berbeda-beda, ada yang merasa secara batin dia siap, secara lahir walaupun dia masih kuliah akan tetapi tingkat keyakinan dan tanggung jawab yang tinggi untuk menikah besar, bisa kita lihat hasilnya, banyak ikhwan akhwat atau muda mudi yang masih dalam status kuliah "berani" melanjutkan ke jenjang lebih tinggi, menikah! Barokalloh, barokalloh.
Tapi ada juga yang secara batin dan lahir dia merasa siap ternyata Alloh berkehendak lain, bahwa dia belum saatnya menyegerakan menggenapkan setengah dien ini. Karena rasa sayang Allah padanya, Allah mengisyaratkannya untuk mengumpulkan perbekalan perbekalan lebih baik lagi agar lebih siap nantinya jika saat yang tepat dan indah itu tiba. Maka, wajib bagi kita untuk selalu berprasangka baik kepada Allah, bahwa Alloh akan mentakdirkan kita bertemu dengan belahan jiwa kita pada saatnya kelak.
Bagi mereka yang pernah merasa gagal dalam berproses untuk menikah ini maka janganlah sedih mendalam dan berpatah hati. Memang wajar jika ada rasa sedih atau bahkan marah yang mampir di hati, sunnatullah, perasaan yang sudah Alloh berikan untuk kita, akan tetapi jangan sampai menyesali diri, bermuram durja berkepanjangan bahkan hingga mempertanyakan dimana kasih sayang dan keadilan dari Allah padanya (naudzubillahimindzalik) atau sampai melakukan bunuh diri (hiiiiiii, naudzubillahimindzalik).
Yakinlah, Alloh pasti akan memberikan yang terbaik untuk kita, termasuk dalam hal jodoh ini. Alloh berfirman dalam Al-Qur’an surat An Nuur ayat 26 “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)...”
Bersabarlah saudara saudariku yang belum menikah, bersabarlah dengan kesabaran yang baik dan indah.
Insya Allah jika Allah sudah berkehendak, saatnya akan tiba, maka dari itu bersiaplah menyiapkan perbekalan itu semua dan berdo’alah, karena hanya Alloh lah yang tahu kapan kita siap untuk menikah.
http://www.eramuslim.com/oase-iman/fatimah-ali-salsabila-alloh-yang-tahu-kapan-kita-siap.htm